Maret 02, 2009

Antara Kurikulum, Pengajaran dan Buku Teks

Dewasa ini terdapat banyak sekali definisi kurikulum, yang kalau dipelajari secara mendalam ternyata dipengaruhi oleh filosofi atau aliran filsafat tertentu. Pertama, pakar kurikulum yang beraliran perenialisme mendefinisikan kurikulum sebagai ”subject matter” atau mata pelajaran, ”content” atau isi, dan ”transfer of culture” atau alih kebudayaan (Said Hamid Hasan, dari Tanner dan Tanner, 1980: 104). Kedua, pakar kurikulum yang menganut aliran essesialisme mendefinisikan kurikulum sebagai ”academic exellence” atau keunggulan akademis dan ”cultivation of intellect” atau pengolahan intelek.
Oliva (1997:12) menyatakan secara tegas bahwa "Curriculum itself is a construct or concept, a verbalization of an extremely complex idea or set of ideas". Dengan kata lain, salah satu pengertian yang melekat pada kurikulum adalah kurikulum sebagai verbalisasi dari ide atau gagasan yang sangat kompleks yang ingin dicapai oleh dunia pendidikan.
Kurikulum sebagai dokumen dan sebagai konsep tidak mempunyai makna apa-apa jika tidak dilaksanakan oleh pendidik dalam proses pengajaran dan pembelajaran di dalam atau di luar kelas. Bahkan, dalam proses pelaksanaan atau penerapan kurikulum itu sendiri juga menjadi salah satu materi tersendiri dalam kurikulum itu, yang kita kenal sebagai kurikulum tersembunyi. Dalam kenyataan di lapangan apa yang dilakukan oleh guru di dalam dan di luar sekolah akan menjadi pengalaman belajar yang sangat mempengaruhi peserta didik. Dan oleh karena itulah maka pengalaman belajar yang diperoleh siswa di sekolah dalam proses pelaksanaan kurikulum ideal disebut sebagai kurikulum yang sebenarnya (real curriculum) atau kurikulum faktual (factual curriculum).
Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36ayat (3) menyatakan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
1.Peningkatan iman dan takwa
2.Peningkatan akhlak mulia
3.Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik
4.Keragaman potensi daerah dan lingkungan
5.Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
6.Tuntutan dunia kerja
7.Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
8.Agama
9.Dinamika perkembangan global
10.Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
HildaTaba mencoba memandang kurikulum dari sisi lain. Dia menganggap bahwa suatu kurikulum biasanya terdiri atas tujuan, isi, pola belajar-mengajar, dan evaluasi. Pandangan Taba tentang kurikulum yang lebih fungsional ini diikuti oleh tokoh-tokoh lain, diantaranya adalah Ralph W. Tyler.
Menurut Tyler, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses pengembangan kurikulum dan pengajaran, yaitu:
1.Tujuan apa yang ingin dicapai?
2.Pengalaman belajar apa yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuan?
3.Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif?
4.Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?
Jika kita mengikuti pandangan Tyler di atas maka pengajaran tidak terbatas hanya pada proses pengajaran terhadap satu bahan tertentu saja, melainkan dapat pula diterapkan dalam pengajaran untuk satu bidang studi atau pengajaran di suatu sekolah. Demikian pula kurikulum, dapat dikembangkan untuk kurikulum suatu sekolah, kurikulum bidang studi atau pun kurikulum untuk suatu bahan pelajaran tertentu.
Atas dasar pandangan tersebut, kita sebagai guru dapat mengembangkan kurikulum untuk berbagai tujuan. Namun satu hal perlu dijadikan dasar dalam pengembangan kurikulum, yaitu bahwa semua keputusan yang dibuat haruslah mempunyai landasan berpijak yang kokoh. Ini dimaksudkan agar kurikulum yang dibuat dapat menuntun murid mencapai tujuan jangka pendek yang dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan pendidikan jangka panjang itu.
Yang dimaksud pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan dan penyusunan kurikulum oleh pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Unruh dan Unruh (1984:97) mengatakan bahwa proses pengembangan kurikulum a complex process of assessing needs, identifying desired learning outcomes, preparing for instruction to achieve the outcomes, and meeting the cultural, social, and personal needs that the curriculum is to serve.
Komponen-komponen Kurikulum yaitu:
1.Komponen tujuan
Yaitu arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam setiap kegiatan sepatutnya mempunyai tujuan, karena tujuan menuntun kepada apa yang hendak dicapai, atau sebagai gambaran tentang hasil akhir dan suatu kegiatan.
2.Komponen isi
Yaitu pengalaman belajar yang diperoleh murid dari sekolah. Dalam hal ini murid melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut. Pengalaman-pengalaman ini dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga apa yang diperoleh murid sesuai dengan tujuan.
Ada beberapa kendala yang sering menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan kurikulum di sekolah, yakni guru dalam proses belajar mengajar hanya menyampaikan materi yang bersifat fakta, tidak bersifat prinsipal. Misalnya dalam pelajaran matematika, murid hanya belajar tentang langkah-langkah memecahkan soal. Sedangkan prinsip umum yang berlaku bagi sesuatu bahan tidak diberikan. Alangkah baiknya jika kepada murid diberikan prinsip umum. Dengan prinsip umum ini murid diajari untuk memecahkan berbagai persoalan.
Memang tidak mudah untuk menentukan mana yang prinsip, mana yang bersifat fakta. Untuk itu dalam menentukan isi kurikulum diperlukan keahlian seseorang dalam sesuatu bidang atau mata pelajaran tertentu. Dengan keahlian itulah dapat dikaji struktur bahan yang menjadi isi kurikulum. Dalam hal ini tentunya diperlukan seorang guru yang berkompetensi.
3.Komponen metode proses belajar-mengajar
Metode atau Proses Belajar Mengajar yaitu cara murid memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Metode kurikulum berkenaan dengan proses pencapaian tujuan sedangkan proses itu sendiri bertalian dengan bagaimana pengalaman belajar atau isi kurikulum diorganisasikan. Setiap bentuk yang digunakan membawa dampak terhadap proses memperoleh pengalaman yang dilaksanakan. Untuk itu perlu ada kriteria pola organisasi kurikulum yang efektif.
Kriteria dalam merumuskan organisasi kurikulum yang efektif menurut Tyler adalah:
a.Berkesinambungan (continuity)
Yaitu adanya pengulangan kembali unsur-unsur utama kurikulum secara vertikal. Sebagai contoh, jika dalam pelajaran Bahasa pengembangan keterampilan membaca dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting, maka latihan membaca perlu dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan. Dengan demikian keterampilan murid dalam membaca dapat berkembang secara efektif melalui pelajaran di sekolah.
b.Berurutan (sequence)
Yaitu isi kurikulum diorganisasi dengan cara mengurutkan bahan pelajaran sesuai dengan tingkat kedalaman atau keluasan yang dimiliki. Sebagai contoh, keterampilan membaca dengan adanya kurikulum resmi seorang guru diharapkan dapat merumuskan bahan sesuai dengan apa yang telah diprogramkan. Dengan demikian, fungsi kurikulum ialah sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari di sekolah.
c.Keterpaduan (integration)
4.Komponen evaluasi atau penilaian
Setelah kita mengetahui tentang konsep dan kedudukan kurikulum dalam pendidikan yang telah diuraikan secara luas, maka sekarang kita menginjak pada langkah-langkah atau cara mengembangkan kurikulum. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.Menentukan tujuan. Rumusan tujuan dibuat berdasarkan analisis terhadap berbagai tuntutan, kebutuhan dan harapan. Oleh karena itu, tujuan dibuat dengan mempcrtimbangkan faktor-faktor kebutuhan masyarakat, maupun murid, seperti kebutuhan masyarakat dan murid di daerah pedesaan.
2.Menentukan isi. Isi kurikulum merupakan materi yang akan diberikan kepada murid selama mengikuti proses pendidikan atau proses belajar-mengajar. Materi ini dapat berupa mata-mata pelajaran ataupun masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan, yang perlu dipelajari untuk mencapai tujuan.
3.Merumuskan kegiatan belajar-mengajar. Hal ini mencakup penentuan metode dan keseluruhan proses belajar-mengajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
4.Mengadakan evaluasi. Evaluasi banyak bergantung kepada tujuan yang hendak dicapai. Hal ini sangat penting dalarn rangka menghasilkan balikan (feedback) untukmengadakan perbaikan. Oleh karena itu, evaluasi harus dilakukan terus-menerus, baik terhadap hasil maupun proses belajar.
Bagi para guru yang setiap hari berkecimpung dalam dunia pendidikan dan pengajaran, akan terasa benar betapa erat hubungan antara kurikulum dengan buku teks atau buku pelajaran. Begitu eratnya, terasa hubungan itu saling menunjang antara satu dengan yang lain.
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa kurikulum lebih dahulu daripada buku teks. Dan buku dianggap sebagai sarana penunjang bagi kurikulum tersebut. Walaupun begitu, tidaklah tertutup samasekali bahwa kurikulum lahir berdasarkan adanya buku yang dianggap relatif baik untuk dituruti dan diprogramkan dengan bersistem. Pada hakikatnya, kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah untuk menunjang suatu program pengajaran. Dengan demikian, antara kurikulum dan buku teks keberadaannya selalu berdekatan dan berkaitan. Atau dengan perkataan lain, kurikulum itu ibarat resep masakan dan buku teks adalah bahan-bahan yang dilakukan untuk mengolah masakan tersebut. Dalam hal ini pengolahan atau juru masaknya adalah guru.
Tentunya dalam menentukan materi ajaran tidak semudah yang kita bayangkan, dalam artian buku teks dapat kita gunakan sebagai acuan untuk mengajar. Dan tidak sedikit pula para pengajar yang pada akhirnya mengalami kekecewaan, karena mereka tidak mampu memilih materi secara tepat dan benar dalam memilih buku pelajaran sebagai acuannya. Apakah yang menjadi alasan pilihannya itu, karena buku itu pengarangnya orang hebat, atau bukunya tebal, atau penyajiannya sangat menarik, atau materinya bertumpu kepada satu keterampilan saja tanpa melihat pada keterampilan-kererampilan lainnya, atau metodanya bagus itu, terserah pilihannya masing-masing. Namun yang harus tetap kita waspadai adalah, apakah materi pelajaran dalam buku teks itu telah sesuai dengan tujuan dan sasaran institusi atau belum, bagaimana agar SK dan KD dapat mewadahi kedua kepentingan tersebut.
Jika kita mendapatkan indikasi-indikasi ketidak sesuaian atau ketidak selarasan antara output dan outcame maka perlu buku teks itu ditinjau kembali untuk diadakan direvisi. Dalam melakukan revisi terhadap materi pelajaran tentunya ada kaidah-kaidah akademik yang harus ikuti dan dipatuhi, serta langkah-langkah tahap persiapan untuk pengoreksian hasus dilaksanakan, agar proses revisi itu tepat sasaran. Berikut ini langkah-langkah persiapan revisi, antara lain:
1.Menjalankan penelitian dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar revisi buku-buku pelajaran sekolah dan materi-materi pengajaran baik.
2.Mengadakan proses penelitian dengan berdasarkan pada hasil-hasil penelitian dan kajian-kajian yang diselenggarakan oleh klub-klub debat ilmiah.
3.Menganalisis terlebih dahulu sebanyak mungkin buku teks yang membahas materi tertentu berdasarkan pada metoda untuk menganalisis isi buku-buku tersebut. Dengan melalui analisa tersebut memungkinkan untuk dapat mengenal karakteristik buku-buku teks dengan segala isinya yang berbeda-beda pada setiap aspek penyusunan buku. Melalui analisis inipun memungkinkan dapat mengetahui sejauhmana kedekatannya dengan kurikulum yang dikembangkan. Semua ini membantu dalam membatasi ketiga alternatif yang mengiringi setiap pertanyaan tentang metoda revisi buku.
4.Meletakkan bidang-bidang penting yang harus ada dalam proses revisi buku bidang-bidang penting adalah :
a.Dasar-dasar mempersiapkan buku.
Yang dimaksud dengan dasar-dasar mempersiapkan buku disini adalah mengenal tahapan- tahapan revisi buku sebelumnya sehingga sampai pada bentuknya yang terakhir, yang didalamnya berisikan hasil-hasil penelitian dan kajian-kajian yang dapat dijadikan sebagai rujukan oleh para penulis, dan juga sebagai landasan yang dijadikan sandaran oleh mereka.
b.Kandungan isi buku.
Yang dimaksud dengan isi buku disini adalah materi kebahasaan dan pendidikan yang dijadikan buku teks untuk para pelajar. Ada dua hal pokok yang nenyibukkan seorang penulis buku yaitu memilih isi buku dan cara menyusunnya. Dari hal tersebut muncul pertanyaan seputar masalah ini, dikarenakan mencakup berbagai unsur isi/ kandungan buku yang bermacam-macam (kosa kata, struktur kalimat, tata bahasa bentuk bahasa yang diajarkan dan kandungan pendidikan ) baik pada saat memilih isi maupun pada saat penyusunannya/ meletakkannya.
Kesimpulan berbahasa, maksudnya adalah keterampilan –keterampilan umum dan khusus yang dapat diperoleh para pelajar dari buku tersebut, baik keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Metoda mengajar yang dimaksud dengan metoda mengajar disini adalah pengajaran bahasa penyusunan isi buku/ kandungan buku.
Latihan dan penilaian. Yang dimaksud disini adalah mengetahui macam-macam bentuk latihan dan jumlahnya juga sejauh mana kekuatan latihan tersebut mampu mengokohkan keterampilan muridnya. Disamping itu juga agar mengenal bentuk/ gaya penilaian yang tersebar dalam buku dan dari penilaian tersebut dimungkinkan dapat mengenal sejauh mana orientasi buku tersebut telah tercapai.Alat-alat komponen pembantu yaitu alat-alat yang menyertai buku yang dapat membantu perealisasian orientasi yang sempurna, seperti petunjuk guru, tape recorder, kertas latihan dan lain-lain.
Desain buku teks. Yang dimaksud disini secara umum adalah format/ bentuk buku secara fisik, baik dari segi cetakannya maupun dari segi penyusunannya atau alat/ media-media belajar yang digunakan.
Penekanan secara umum. Yang dimaksud disini adalah mengetahui sejauh mana kecocokan buku teks dengan kurikulum dan program yang dipilih begitu juga perasaan guru yang nyaman dalam menggunakannya.
5.Setelah melaksanakan hal tersebut, selanjutnya meletakkan kaidah-kaidah pada setiap aspeknya, Kaidah-kaidah ini dibuat dalam bentuk bentuk pertanyaan yang dari situ kita akan mengetahui dengan jelas sejauh mana realisasi buku teks tersebut dengan kaidah-kaidah yang telah ditentukan.
6.Selanjutnya setiap pertanyaan diberi tiga alternatif. Ketiga alternatif tersebut memiliki nilai bertingkat yang pertama diberi nilai (2), sedangkan yang kedua diberi nilai satu (1) dan yang ketiga diberi nilai kosong. Maksud dari semua ini adalah untuk memberikan penilaian pada buku berdasarkan jumlah angka-angka sehingga memudahkan kita untuk dapat mengetahui intentitas /ukurannya buku tersebut dan membandingkan dengan bubu-buku lain dalam penelitian dan penyelesaiannya.
7.Penelitian berniat untuk meningkatkan kemampuan lewat latihan pada metoda penyelesaian ini, oleh sebab itu ketiga alternatif diatas diikuti oleh alternatif keempat ini, pengoreksi memberikan pendapat/ pandangan tentang isi buku yang belum disebutkan pada ketiga alternatif (pilihan). Didepannya diletakan tanda kurung yang didalamnya ditulis hasil penilaian pada buku pada pertanyaan tersebut.
8.Agar format umum pada buku teks tidak hilang pada saat penngoreksian dibagi kedalam beberapa unsur yang detail. Maka disini peneliti memfokuskan pada pertanyaan terakhir agar pengoreksi menulis pandangannya secara umum tentang buku teks tersebut, juga gambaran subyektifitas tentang sejauhmana kecocokan dia dengan buku yang ia pilih untuk dikoreksi.
9.Langkah terakhir menentukan tabel yang akan menyediakan nilai buku teks tersebut berdasarkan pertanyaan yang telah ditentukan. Sebaiknya tabel ini tidak menutup kemungkinan untuk dibandingkan dengan sekurang-kurangnya lima buku teks lainnya yang telah disiapkan untuk bahan pengoreksian dan agar bisamenyeleksiisi buku-buku tersebut. Tabel ini dinamakan dengan tabel penilaian buku. Dan berikut inimetoda pengoreksian langsung. Melalui tabel tersebut akan nampak nilai (kualitas) buku dan presentasi yang dihasilkan setiap buku sehingga dapat dibandingkan antara satu dengan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar